BIODATA PEMAIN BOYS BEFORE FLOWERS

Lee Min Ho as Goo Jun Pyo

* Birth : 22 juni 1987
* Tingg/BB : 185cm/69kg
* Gol.darah : A
* Zodiac : Cancer
* Keluarga : Ayah,Ibu dan Kakak perempuan
* Hobi : Nonton film,maen game,sepak bola
* Pendidikan : GunGook University,jurusan film
* Agensi : Star House Entertainment
* Situs Pribadi : www.cyworld.com
* Drama Televisi : Boys Before Flowers(KBS2,2009)

But I Don’t Know Too(MBC,2008)

I am Sam(KBS2,2007)

Mackerel Run!(DSBS,2007)

Secret Campus(EBS 2006)

Love Hymn(MBC,2005)

# Film : Our School E.T(2008)

Public Enemy(2008)

http://ameliasiwon.blogspot.com/2009/05/biodata-pemain-boys-before-flowers.html

Komentar bertahan »

MONITA- KEKASIH SEJATI

Aku yang memikirkan
Namun aku tak banyak berharap
Kau membuat waktuku
Tersita dengan angan tentangmu

*
Mencoba lupakan
Tapi ku tak bisa
Mengapa… Begini…

**
Oh Mungkin aku bermimpi
Menginginkan dirimu
Untuk ada disini menemaniku
Oh Mungkinkah kau yang jadi
Kekasih sejatiku
semoga tak sekedar harapku

back to *,**

Bila
Tak menjadi milikku
Aku takkan menyesal
Telah jatuh hati

Back to **
Semoga tak sekedar harap

http://www.lirik-lagu.web.id/m/monita/kekasih-sejati/

Komentar bertahan »

Pendidikan di Indonesia

www.worldbank.org/id/education
//

 

publication
Pemberian kerja dan penugasan guru di Indonesia
Download
Pendidikan dan pengembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia: investasi untuk kehidupan yang lebih baik
Download
Bank Dunia dan Pemerintah Belanda menandatangani kesepakatan membantu Departemen Pendidikan Nasional sebesar $20 juta untuk memaksimalkan efektivitas program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana dari Pemerintah Belanda yang dikelola Bank Dunia itu dimanfaatkan untuk menjamin bahwa dana BOS digunakan semestinya dan orang tua lebih memahami program BOS. Baca lebih lanjut

 

FAKTA SINGKAT
Indikator di Indonesia (Angka berikut menunjukkan data terbaru yang tersedia dan tahunnya)
Untuk data terbaru kunjungi World Bank Education Stat (EdStat)
IKHTISAR

Sistem sekolah Indonesia sangatlah luas dan bervariasi. Dengan lebih dari 50 juta siswa dan 2,6 juta guru di lebih dari 250.000 sekolah, sistem ini merupakan sistem pendidikan terbesar ketiga di wilayah Asia dan bahkan terbesar keempat di dunia (berada di belakang China, India dan Amerika Serikat). Dua menteri bertanggung jawab untuk mengelola sistem pendidikan, dengan 84 persen sekolah berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan sisa 16 persen berada di bawah Departemen Agama (Depag). Sekolah swasta pun memainkan peran penting. Walaupun hanya 7 persen sekolah dasar merupakan sekolah swasta, porsi ini meningkat menjadi 56 persen di tingkat menengah pertama dan 67 persen di tingkat menengah umum.Tingkat pendaftaran bersih sekolah dasar berada di bawah 60% di kabupaten-kabupaten tertinggal dibandingkan dengan di kabupaten maju yang memiliki pendaftaran universal. Tingkat pendaftaran bersih untuk pendidikan menengah mengalami peningkatan kuat (saat ini 66% untuk Sekolah Menengah Pertama dan 45% untuk Sekolah Menengah Umum) tapi tetap rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di wilayah ini. Indonesia juga tertinggal dengan para tetangganya dalam Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Tinggi, dengan tingkat pendaftaran kotor sebesar 21% dan 11,5% secara berurutan.

Pendidikan merupakan hal penting bagi agenda pembangunan Pemerintah Indonesia. Belanja pendidikan telah meningkat secara signifikan di tahun-tahun terakhir setelah terjadinya krisis ekonomi. Secara nyata, belanja pendidikan meningkat dua kali dari tahun 2000 sampai 2006. Di tahun 2007, belanja untuk pendidikan lebih besar daripada sektor lain, yang mencapai nilai US$14 miliar, atau lebih dari 16 persen dari total pengeluaran pemerintah. Sebagai bagian dari PDB (3,4 persen), jumlah ini setara dengan jumlah di negara lain yang sebanding.

Undang-Undang mengenai Pendidikan Nasional (No. 20/2003) dan Amandemen Konstitusi III menekankan bahwa semua warga Indonesia berhak mendapatkan pendidikan; bahwa Pemerintah wajib untuk membiayai pendidikan dasar tanpa biaya; dan bahwa Pemerintah diberi mandat untuk mengalokasikan 20% dari pengeluarannya untuk pendidikan. Undang-Undang mengenai Guru (No. 14/2005) memperkenalkan perubahan-perubahan penting atas syarat dan ketentuan pemberian kerja untuk sertifikasi guru, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Rencana strategis Departemen Pendidikan untuk 2005-9 memiliki tiga pilar utama:

  1. Peningkatan akses terhadap pendidikan;
  2. Peningkatan kualitas pendidikan;
  3. Kepemerintahan yang lebih baik dalam sektor pendidikan.

Di tahun 2005, Pemerintah meluncurkan program yang disebut BOS (Biaya Operasional Sekolah), sebagai cara untuk menyampaikan dana secara langsung ke sekolah-sekolah agar anak-anak tetap bersekolah dan memberi sekolah kebebasan dalam mengelola dana mereka sendiri. Dalam mendukung hal ini sekaligus upaya desentralisasi secara umum, Pemerintah telah menetapkan prinsip Pengelolaan Berbasis Sekolah dalam sistem pendidikan nasional serta menyediakan kerangka untuk Standar Nasional Pendidikan.

Tim pendidikan Bank Dunia berfokus dalam mendukung Rencana Strategis (RENSTRA) Departemen Pendidikan Nasional
Mulai dari RENSTRA 2005-2009, Bank Dunia telah mengembangkan portofolio dukungan atas program-program utama yang diidentifikasi oleh Kementerian sebagai dukungan tambahan. Dialog Pendidikan Tematis yang dipimpin Bappenas (forum untuk Pemerintah dan mitra pembangunan dalam mendiskusikan masalah sektor di tingkat kebijakan) menyediakan arah bagi Bank Dunia dan mitra pembangunan mengenai area fokus untuk dukungan di masa depan. Forum tersebut saat ini memimpin Penilaian Sektor Pendidikan yang akan menyediakan dasar analitis untuk keputusan strategis mengenai arah RENSTRA 2010-2014, yang akan digunakan mitra pembangunan sebagai kerangka dukungan di masa depan.

Program Bank Dunia akan menjembatani program RENSTRA 2005-9 dan 2010 dengan portofolio pinjaman investasi, dana perwalian, dan karya analitis berjalan dan yang akan datang mewakili Kementerian, menyediakan dukungan komprehensif atas karya Direktorat Jenderal di bidang kualitas guru, pendidikan dasar, pendidikan tinggi, dan pengembangan anak usia dini.

Portofolio proyek Kluster Pendidikan terdiri dari proyek-proyek Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, Tinggi, dan Informal. Sebagai tambahan, proyek pelatihan remaja dan prakarsa di tingkat sektor saat ini akan dilakukan. Lebih dari US$ 830 juta diberikan sebagai komitmen untuk bidang Pendidikan kepada Pemerintah Indonesia oleh IDA dan IBRD. Total biaya proyek aktif dan proyek yang akan dilakukan adalah lebih dari US$1.5 miliar. Terlebih lagi, ada dana perwalian dalam jumlah besar yang akan mendukung program pemberian pinjaman.

width="3" Kembali ke Atas

<!–

–>


MASALAH UTAMA

Walaupun Indonesia telah pulih dari krisis ekonomi di akhir tahun 1990-an, negara ini masih tertinggal dari negara-negara tetangga sehubungan dengan akses terhadap layanan pendidikan yang bermutu. Fokus upaya tersebut saat ini adalah pada kualitas lembaga dan pengeluaran publik. Tantangan utama mencakup:

  • Pendaftaran sekolah menengah. Indonesia memiliki pendaftaran sekolah dasar yang hampir universal, tapi di tingkat menengah pertama, peningkatan berjalan lambat. Hanya 55 persen anak-anak dari keluarga berpendapatan rendah terdaftar di sekolah menengah pertama.

  • Prestasi pembelajaran siswa. Indonesia terus mendapat prestasi yang rendah dalam uji berstandar internasional atas prestasi siswa, bahkan setelah memperhitungkan kondisi sosial ekonomi. Di tahun 2003, Indonesia mendapat posisi ke-33 dari 45 negara dalam Third International Mathematics Science Study (TIMSS). Di tahun 2006, Program for International Student Assessment (PISA), yang menilai seberapa baik kesiapan siswa berumur 15 tahun dalam menghadapi kehidupan, Indonesia mendapat peringkat 50 dari 57 negara dalam bidang ilmu pengetahuan, membaca dan matematika.
  • Alokasi belanja. Walaupun belakangan ini terjadi peningkatan dalam belanja pendidikan secara keseluruhan, investasi Indonesia untuk pendidikan menengah, terutama menengah pertama, masih kurang. Pada saat yang sama, anggaran operasional telah ditekan karena peningkatan substansial dalam pengeluaran untuk gaji.
width="3" Kembali ke Atas


PROGRAM BANK DUNIA

BOS – Knowledge Improvement through Transparency and Accountability (BOS-KITA)
Program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) telah menyediakan hibah untuk setiap siswa ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia sejak tahun 2005. BOS merupakan bagian dari upaya Pemerintah dalam menyediakan pendidikan berkualitas kepada semua siswa di seluruh tingkatan pendidikan
.
Bank Dunia mendukung program BOS melalui program BOS KITA (Bantuan Operasional Sekolah – Perbaikan Pengetahuan untuk Transparansi dan Akuntabilitas), program yang bertujuan mempermudah akses ke pendidikan bermutu untuk semua anak usia 7 hingga 15 dengan memperkuat komite sekolah, meningkatkan partisipasi masyarakat, meningkatkan pengaturan fidusia demi transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar atas program BOS sehingga dana BOS saat ini dapat digunakan dengan lebih baik.

Kedutaan Besar Kerajaan Belanda menyediakan dukungan tambahan sebesar $20 juta (sekitar 200 miliar Rupiah) yang bertujuan untuk membantu Departemen Pendidikan Nasional dalam memaksimalkan efektivitas Program BOS. Dana ini akan digunakan untuk memperkuat sejumlah kegiatan: pengawasan, evaluasi dan penanganan keluhan; kampanye informasi dan pemasaran sosial; sekaligus memperkuat tim BOS yang ada di tingkat sekolah serta upaya komite sekolah dan orang tua.

Baca juga:
Bank Dunia Mendukung Peningkatan Keberhasilan Program Pendidikan (Siaran Pers)

Proyek BOS-KITA (2008 – 2010)
Pemerintah Indonesia US$2,021.507 juta
Kedutaan Besar Kerajaan Belanda US$52 juta
Kedutaan Besar Kerajaan Belanda US$20 juta
Pinjaman IBRD US$600 juta
Total US$2,641.50 juta
Perincian lebih lanjut ada di Database Proyek

 

Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU)
Proyek BERMUTU berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kinerja pengajaran. BERMUTU berarti “berkualitas” dalam Bahasa Indonesia. Proyek ini akan mempersiapkan kerangka kerja untuk memastikan bahwa guru memiliki peluang untuk meningkatkan pengetahuan mereka atas mata pelajaran yang mereka ajarkan, dan pada saat yang sama meningkatkan keterampilan mengajar mereka. Proyek ini pun berusaha meningkatkan sistem akreditasi untuk program pendidikan guru.Proyek ini akan berjalan dalam beberapa cara, melalui pendidikan guru berbasis perguruan tinggi, melalui program pengembangan guru tingkat lokal, dan melalui penemuan cara untuk meningkatkan sistem insentif dan pertanggungjawaban guru. BERMUTU akan berjalan secara langsung di perguruan-perguruan tinggi terpilih yang memiliki program pelatihan guru, yang menyediakan hibah dengan basis kompetitif untuk mendorong mereka dalam meningkatkan status akreditasi dan meningkatkan program penjangkauan mereka untuk melatih guru di wilayah pedesaan dan terpencil, terutama melalui metode berbasis TI. Proyek ini akan bekerja bersama kelompok guru, kepala sekolah dan pengawas di 16 provinsi dan 75 kabupaten/kota, dengan menyediakan peluang bagi para guru di wilayah pedesaan dan terpencil untuk meningkatkan keterampilan mereka melalui pembelajaran jarak jauh.

Proyek BERMUTU (2008 – 2013)
Pemerintah Indonesia US$57.1 juta
Kedutaan Besar Kerajaan Belanda US$52 juta
Kredit IDA US$61.5 juta
Pinjaman IBRD US$24.5 juta
Total US$195.1 juta
Perincian lebih lanjut ada di Database Proyek

Baca juga:
Bank Dunia Mendukung Program Peningkatan Kualitas Guru Indonesia melalui Bantuan US$86 Juta Baru
(Siaran Pers)

Early Childhood Education and Development (ECED)
Proyek ECED bekerja sama dengan Departemen Pendidikan untuk memastikan bahwa semakin banyak anak-anak dari keluarga miskin yang memiliki akses terhadap pendidikan,
sehingga meningkatkan perkembangan dan persiapan mereka untuk pendidikan selanjutnya, sekaligus mengembangkan sistem ECED
yang berkualitas secara berkesinambungan. Untuk mencapai tujuan ini, proyek berupaya untuk:

  1. Meningkatkan kapasitas masyarakat miskin agar terlibat dalam perencanaan partisipatif yang akan menghasilkan layanan ECED baru atau yang ditingkatkan untuk anak-anak dan keluarga mereka, yang akan menyertakan dukungan atas status nutrisi dan kesehatan mereka.
  2. Mempersiapkan dasar untuk sistem ECED berkesinambungan melalui komitmen anggaran dari kabupaten yang berpartisipasi, pembangunan kapasitas kabupaten, serta pembentukan jaminan kualitas nasional dan sistem pembangunan profesional.
  3. Memastikan peningkatan berkelanjutan atas penyampaian layanan dan pembangunan sistem melalui pengelolaan proyek yang efektif, serta pengawasan dan evaluasi.

Proyek ini menargetkan sekitar 738.000 anak-anak usia 0-6 yang tinggal di sekitar 6.000 masyarakat miskin yang berlokasi di 3.000 desa
di 50 kabupaten miskin di Indonesia. Setelah jelas bahwa pendekatan ini berjalan, Pemerintah akan mulai memperluas program ke lebih banyak anak-anak miskin di seluruh negeri.

Proyek ECED (2006 – 2013)
Pemerintah Indonesia US$35.1 juta
Kedutaan Besar Kerajaan Belanda (hibah) US$25.3 juta
Kredit IDA US$67.5 juta
Total US$127.9 juta
Perincian lebih lanjut ada di Database Proyek

 

Managing Higher Education for Relevance and Efficiency (IMHERE)
IMHERE dimulai dengan Rencana Jangka Panjang Pendidikan Tinggi Pemerintah, yang mendukung pengelolaan dan administrasi
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dalam Departemen Pendidikan Nasional, serta membantu pengembangan kerangka kerja hukum untuk pendidikan tinggi. IMHERE bertujuan untuk membantu menciptakan lingkungan yang memampukan perguruan tinggi negeri menjadi semakin otonomi dan lebih andal, sambil meningkatkan kualitas, relevansi, efisiensi dan kesamaan pendidikan bagi siswa. IMHERE mendanai pengembangan program akreditasi kelembagaan, BAN-PT, strategi untuk memulihkan Universitas Terbuka serta memperkuat pengelolaan dan administrasi perguruan tinggi.

Komponen proyek telah dirancang untuk:

  1. Memfasilitasi reformasi dan pengawasan sistem Pendidikan Tinggi.
  2. Menyediakan hibah untuk meningkatkan kinerja kelembagaan dan kualitas akademis.
  3. Merevitalisasi universitas negeri dan terbuka di bidang kepemerintahan, keuangan, penjangkauan, muatan, dan penyampaian.
Proyek IMHERE (2005 – 2012)
Pemerintah Indonesia US$34.54 juta
Kredit IDA US$30 juta
Pinjaman IBRD US$50 juta
Total US$114.54 juta

Komentar bertahan »

Pemanasan global

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Temperatur rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990

Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980

Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia”[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Penyebab pemanasan global

[sunting] Efek rumah kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F)dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

Mengukur pemanasan global

Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa

Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai.

Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.

Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan (trend) yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya.

Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas.

Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.

IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. karbon dioksida akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali. [22]

Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan masa sebelum era industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi masalah ini dengan risiko populasi yang sangat besar.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Penyebab_pemanasan_global

Komentar bertahan »

KOKORONO TOMO

By Mayumi Itsuwa

ANATA KARA KURUSHIMI O UBAETA SONO TOKI
WATASHI NIMO IKITEYUKU YUUKI NGA WAITE KURU
ANATA TO DEAU MADE WA KODOKU NA SASURAI-BITO
SONO TE NO NUKUMORI O KANJI SASETE

AI WA ITSUMO RARABAI
TABI NI TSUKARETA TOKI
TADA KOKORO NO TOMO TO
WATASHI O YONDE

SHINJIAU KOTO SAE DOKOKA NI WASURETE
HITO WA NAZE SU’NGITA HI NO SHIAWASE OIKAKERU
SHISUKA NI MABUTA TOJITE KOKORO NO DOA O HIRAKI
WATASHI O TSUKANDARA NAMIDA HUITE

AI WA ITSUMO RARABAI
ANATA NGA YOWAI TOKI
TADA KOKORO NO TOMO TO
WATASHI O YONDE

AI WA ITSUMO RARABAI
TABI NI TSUKARETA TOKI
TADA KOKORO NO TOMO TO
WATASHI O YONDE

http://www.heartflyer.com/kokoro.htm

Komentar bertahan »

Emangnya Enak Jadi Anak Jaman Sekarang?

April 6, 2009 by admin
Filed under Writer Schoolen

Oleh: Petriza Giovanni

“Besok kamu ada waktu ga buat bikin tugas bareng?”
“Besok kan Jumat, aku ada les Inggris sepulang sekolah.”
“Lusa deh kalo gitu…”
“Kalo Sabtu, aku ada les piano ama biola.”
“Emmm kalo Minggu? Masa ada les juga?”
“Ada. Les motivasi dari pagi ampe sore.”
“Hah???”

Sekilas percakapan di atas tampak agak dibuat-buat. Masa si hampir setiap hari ada les. Memang begitulah kira-kira schedule-nya anak-anak ibukota. Setiap hari, anak-anak yang tinggal di ibukota tidak pernah lepas dari kegiatan les. Ada bermacam-macam jenis les yang mereka ikuti, dari les pelajaran sekolah, les bahasa, les musik, les berenang, sampai les yang lagi ngetrend saat ini les mind mapping dan les motivasi.

Tidak hanya anak SMA saja yang memiliki banyak kegiatan les di luar sekolah, anak SD pun sudah memiliki banyak kegiatan di luar sekolah. Bahkan yang lebih mencengangkan, anak TK sudah tidak aneh lagi memiliki kegiatan les di luar sekolah. Kasihan anak-anak sekarang, mereka harus mengorbankan masa kecil mereka yang seharusnya indah dan penuh kenangan menjadi siksaan yang bisa saja menjadi trauma bagi mereka di masa mendatang.

Apa sich sebabnya sehingga mereka harus menanggung beban yang sedemikian berat setiap hari? Ada beberapa sebab yang cukup signifikan. Sebab yang pertama adalah semakin beratnya pelajaran di sekolah. Semakin tahun, kurikulum di negara kita tercinta ini bukannya semakin membaik malah semakin memburuk. Jika anda perhatikan, setiap pergantian menteri di Departemen Pendidikan maka kurikulum pun akan berganti. Yang bukan lagi menjadi rahasia adalah ini merupakan permainan politik dari Departemen Pendidikan. Betapa tidak, setiap pergantian kurikulum, maka akan ada pergantian buku cetak yang berarti ada komisi dari percetakan.

Kalo kita perhatikan, saat ini, anak-anak SMP sudah mulai mempelajari bahan-bahan yang tadinya diperkenalkan di SMA. Entah apa alasan yang membuat kurikulum tersebut, tetapi yang pasti hal tersebut cukup memberatkan para anak didik jaman sekarang. Permasalahan muncul ketika nalar mereka belum sampai untuk memamah materi tersebut. Lalu apa solusinya supaya mereka mengerti? Mau tidak mau, mereka pun harus mengorbankan waktu mereka untuk mengikuti kegiatan les pelajaran.
Ada fenomena lingkaran setan di sini. Beberapa guru yang tidak memahami tugasnya dengan baik justru sengaja tidak lagi menerangkan dengan jelas materi yang diajarkan. Mereka sudah mengetahui bahwa sebagian besar anak muridnya sudah dengan jelas mengerti materi tersebut. Dengan sikap guru yang seperti itu, akibatnya para anak didik semakin tergantung dengan guru les pelajarannya.

Alasan yang lain mengapa anak jaman sekarang bebannya semakin berat adalah karena orangtuanya yang tidak mau ketinggalan. Mungkin saja anak-anak jaman sekarang sudah sangat letih sepulang dari sekolah, mengingat lamanya waktu belajar di sekolah saat ini pun semakin panjang. Walaupun demikian, sebagian besar orang tua masih memaksa agar anak mereka mengikuti berbagai les tersebut. Sepertinya ada yang kurang jika anaknya tidak mengikuti les yang diikuti oleh anak Ibu A atau anak Ibu B.

Motivasi yang seharusnya merupakan tugas orang tua atau bisa didapatkan dari membaca buku inspirasional dari berbagai tokoh pun bisa dijadikan kegiatan les yang cukup menjanjikan. Bukan berarti motivasi itu tidak penting. Di kota-kota besar, les motivasi menjadi berkembang karena para orang tua biasanya tidak mau kalah dari orang tua lain yang anaknya mengikuti suatu kegiatan les. Alhasil sangat gampang sekali memancing para orang tua ini untuk memasukkan anaknya ke suatu kegiatan tertentu.

Ada begitu banyak sebenarnya sebab ataupun alasan mengapa beban anak jaman sekarang semakin berat. Tetapi setidaknya, dua alasan di atas cukup mewakili alasan-alasan tersebut. Makanya…emangnya enak jadi anak jaman sekarang???

sumber:  http://pembelajar.com/emangnya-enak-jadi-anak-jaman-sekarang

Komentar bertahan »

Pemanfaatan Dana BOS Belum Tepat

Rabu, 28 Oktober 2009 | 20:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Dana bantuan operasional di jenjang pendidikan dasar berkontribusi signifikan untuk peningkatan prestasi sekolah. Tetapi tidak adanya petunjuk soal proporsi peruntukan dan penggunaan dana bantuan operasional sekolah menyebabkan kesalahan penggunaan sehingga dana diminta dikembalikan ke negara.

Demikian hasil penelitian yang dipaparkan Bahar Sinring, Dekan Fakultas Muslim Indonesia Makassar, Rabu (28/10) di Jakarta. Pemaparan itu merupakan salah satu hasil penelitian bidang pendidikan berkerja sama dengan Pusat Penelitian Depdiknas yang dibahas dalam seminar bertajuk Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah.

Bahar menjelaskan berdasarkan penelitian soal pemanfaatan dana BOS di jenjang SD/MI di Sumatera Barat, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Timur,Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur, dana BOS bermanfaat untuk meningkatkan prestasi sekolah. Yang masuk dalam prestasi sekolah yang dikaji adalah tingkat enrolmen atau pendaftaran, angka putus sekolah, tingkat kelulusan, dan prestasi akademis peserta didik.

“Tetapi pola dan penggunaan dana BOS tiap provinsi tidak sama dalam urutan peruntukannya. Kondisi itu karena tidak ada proporsi peruntukan dan penggunaan dana BOS. Akibatnya, dana BOS tidak tepat sasaran penggunaan. Itu diketahui sekolah saat pemeriksaan BPK. Dana BOS yang sebenarnya bisa meningkatkan prestasi sekolah, mesti dikembalikan lagi ke negara,” kata Bahar.

Dari penggunaan dana BOS di tiap provinsi terlihat bahwa pemanfaatan untuk gaji guru atau tenaga administrasi honorer mengambil prosi yang cukup besar sekitar 20-40 persen. Akibatnya, dana BOS yang dapat dinikmati siswa, termasuk untuk membantu siswa miskin, berkurang.

“Meskipun dana BOS dibolehkan untuk bayar gaji guru dan pegawai honor, mestinya itu jadi tanggung jawab pemerintah daerah. Dengan dana BOS yang masih belum memadai, semestinya pemanfaatan diutamakan untuk biaya operasional dalam kelas seperti membeli buku referensi, buku teks, dan kegiatan ekstrakurikuler, serta untuk bantuan siswa miskin,” ujar Bahar.

Selain itu, banyak sekolah yang langsung menggunakan dana BOS untuk membeli alat peraga, media pembelajaran, mesin ketik, atau mebeler sekolah. Padahal, menurut buku panduan BOS bahwa biaya untuk komponen tersebut bisa dilakukan jika 13 komponen lainnya telah terpenuhi.

Dana BOS dikucurkan mulai tahun ajaran 2005/2006. Anggarannya senilai Rp 235.000/siswa/tahun untuk SD/MI. Tahun 2007 BOS jadi Rp 267.000/siswa/tahun, ditambah BOS buku Rp 22.000/siswa/tahun. Pada tahun ini, BOS SD/MI jadi Rp 400.000 untuk kota dan kabupaten Rp 397.000/siswa/tahun.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas Mansyur Ramly menambahkan, pencapaian mutu pendidikan memang masih harus ditingkatkan supaya siswa Indonesia memiliki daya saing di tingkat internasional. Pendanaan pendidikan melalui dana BOS perlu ditingkatkan, serta menaikkan kualitas tenaga pendidik. “Dari studi inilah kita akan melangkah untuk peningkatan mutu sekolah,” kata Ramly.

Program BOS diharapkan bukan untuk berperan dalam mempertahankan angka partisipasi kasar (APK), namun juga harus berkontribusi besar untuk peningkatan mutu pendidikan dasar.

http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/10/28/2026041/pemanfaatan.dana.bos.belum.tepat

Komentar bertahan »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Komentar (1) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.